Langsung ke konten utama

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM GEREJA PURBA
(Antara Abad ke-2 dan ke-5)
   A.    Lingkungan Luasnya
Pada awal abad ke-2 para pemeluk Agama Kristen sedikit sekali jumlahnya, meskipun sudah ada kelompok-kelompok Kristen yang mendiami banyak kota sekitar daerah laut Tengah. Barangkali tidak ada seorang pemimpin Kristen pada waktu itu yangcukup berani meramalkan bahwa pada akhir abad ke-5 kerajaan Romawi yang berabad-abad lamanya mahakuasa itu akan runtuh, dan lebih mengherankan lagi, bahwa jumal orang Kristen akan banyak. Agama Kristen telah menjadi kekuatan yang paling menonjol. Serentak dengan itu, keadaan gereja telah berubah sama sekali.
Perubahan hebat dalam gereja itu tidak berlangsung bebas dari kesulitan dan kesalahan, suatu keadaan yang dapat dipahami apabila diingat bahwa pemimpin gereja terdiri dari pelopor-pelopor iman.Selain siasat yang dipakai para pemimpin Yahudi yang agak acuh tak acuh terhadap sumbangan suku bangsa yang bukan-Yahudi, kebanyakan persekutuan Kristen setempat justru berasal dari suku bangsa yang bukan-Yahudi.sebab hampir semua pemimpin gereja purba itu berasal dari kebudayaan Yunani-Romawi.
   B.     Tantangan Budaya terhadap Gereja
Pertama-tama, gereja purba itu dihadapkan pada kebudayaan yang berdewa-dewi banyak, tetapi tidak mampu menarik kesetiaan dari kebanyakan warga kerajaan Romawi.Sementara itu pemerintah Romawi berusaha mengembangkan agama Negara yang dapat mempersatukan semua suku bangsa yang termasuk dalam kerajaan itu.Raja (Kaisar) romawi diangkat menjadi tuhan kedewaannya didukung oleh liturgi khusus yang dikembangkan.
Pada umumnya atas pemeluk-pemeluk agama Yahudi tidak dikenakan peraturan agama Negara, sebab kepada mereka telah diberikann status khusus.Kemudian, ketika jelas perbedaan antara kedua agama itu, maka orang-orang Kristen mengalami kesulitan. Juga, berbeda dengan orang-orang yahudi yang condong mengasingkan diri dari urusan khalayak ramai, maka orang-orang Kristen dengan  berani membritakan injil dimana saja.
Kedua, gereja purba itu ditantang untuk mencari jalan bagaimana memanfaatkan buah intelektual kebudayaan itu tanpa mengambil-alih isinya yang bertentangan dengan injil, suatu ketegangan yang tidak kunjung teratasi secara memuaskan, antara lain sebab mereka sendiri selalu merupaka buah dari sesuatu kebudayaan. Semua hasil pikiran dan tangan kaum kafir itu melayani dosa manusia.itulah sebabnya mengapa satu-satunya  respons yang layak diberikan ialah- jangan ikut campur-tangan dalam urusan budaya, dan secara positif memusatkan perhatian kepada diri kristus yang bangkit itu.
Dengan cara yang serupa, kaum muda Kristen hendaknya menerima segala sesuatu yang berfaedah dalam buku-buku kafir, dan mengabaikan segala sesuatu yang tidak berguna. Singkatnya, semua bacaan itu dipertimbangkan dan ditinjau dari sudut pandangan kehidupan Kristen untuk mencari perilaku yang selaras dengan injil Kristus dan apa saja yang mendorong pengalaman kebajikan.
Ketiga, gereja purba itu ditantang pula untuk menjernihkan pengakuan imannya did tengah aliran-aliran keagamaan dan intelektual yang dikenal dalam dunia Yunani-Romawi pada zaman itu. Barangkali yang paling berpengaruh ialah kumpulan aliran yang bernama Gnostikyang condong menentang gereja menggumuli ulang arti penyataan Allah dan hubungan-Nya dengan manusia.Gnostik yaitu “Pengetahuan”.
Tantangan keempat, dan yang terkahir dalam rangka ulasan ini, yang berasal dari kebudayaan Yunani-Romawi, berkisar sekitar sejumlah tuduhan yang dimaksudkan untuk meremehkan iman dan gaya hidup para warga Kristen.
Tentang tuduhan bahwa para penganut agama Kristus itu tidak berTuhan karena dalam kebaktian tidak adapatung-patung, jawabannya ditulis oleh Aristides, salah seorang pemikir Kristen dari abad ke-2.Dengan jalan mengabdikan diri kepada dewa/I semacam itu terdapat kecondongan pula untuk meniru perilaku yang serupa, meskipun perilakutersebut tidak sesuai dengan hukum manusia.Dengan demikian, kesimpulannya jelas. Dewa/I apapun bentuknya jangan sekali-kali disembah
   C.    Keprihatinan Gereja terhadap Pelayanan Pendidikan
Usaha untuk memperoleh suatu gambaran yang jelas dan lengkap tentang keprihatinan pedagogis gereja puba itu agak sulit, sebab jemaat-jemaat sendiri tidak mempunyai Komisi Pendidikan Agama Kristen!  Meskipun begitu, kebanyakan jemaat rupanya hidup dalam suatu lingkungan luas, di mana keprihatinan pendidikan mendapat perhatian
Apabila ditanyakan dengan caea bagaimanakah Allah dapat ber-Anak Origenes menjawab bahwa kita terpaksa mempergunakan bahasa insani untuk menggambarkan hubungan antara Allah Bapa dan Yesus, tetapi Allah tidak menghasilkan Anak-Nya dengan cara yang sama seperti kelahiran manusia. Sebagaimana Yesus sendiri bukanlah seorang laki-laki yang hanya ada pada titik tertentu dalam sejarah, melainka seseorang oknum yang selalu berada bersama dengan Allah Bapa, maka demikian pula halnya dengan amanat-Nya, yaitu bahwa amanat itu bukan sesuatu yangbaru
   D.    Lima Pendidikan Besar
1.      Clementus (150-215 M)
Clementus lahir dikota Atena dan meninggal di Palestina. Ketika ia berumur tiga puluh tahun, ia masuk sekolah Kateketika Aleksandria dan belajar dibawah bimbingan Pantaenus sang kepala sekolah itu. Menurut Clementus, sang pengajar yang memainkan peranan paling utama dalam Pendidikan Agama Kristen bukan seseorang yang berdiri di depan kelas, siapa pun dia. Pendidik pokok adalah tidak lain daripada Firman Allah, yaitu Kristus. Tujuan PAK tidak dikemukakan secara langsung, tetapi berdasarkan isi tulisannya dapat kita simpulkan bahwa Clementus ingin menghasilkan seorang Kristen yang mewujudkan dalam diri pribadinya sifat yang paling kaya yang berasal dari Injil Kristus dan dari kebudayaan Yunani.
2.      Origenes (185-224)
            Origenes adalah seorang Ktisten.Metode penafsiran yang dimaksudkan disini dinamakan alegoris atau metode ibarat.Salah satu tugas pokok seorang guru Pendidikan Agama Kristen ialah menolong para pelajar memahami arti yang dibukakan melalui pendekatan alegoris tersebut. Menurut Gregori pada hari pertama itu hari yang amat penting, Origenes memanfaatkan gaya ucapan yang mendobrak hati yang amat penting. Namun demikian, Gregori bukanlah jiplakan dari Origenes.Gregori mengembangkan pandangan sendiri kelak sewajarnya.
3.      Hieronimus (345-420)
            Nama Hieronimus dikaitkan secara abadi pada Vulgatus, Alkitab dalam bahasa Latin yang masih memainkan peranan penting dalam kehidupan Gereja Katolik Roma.Pada pokoknya, Pendidikan Agama Kristen yang digariskannya bagi anak perempuan bernama Paula itu, terdiri dari semacam rancangan untuk menentukan isi seluruh lingkungan pengalamannya. Meskipun Hieronimus tidak memakai istilah “tujuan pendidikan” namun, tujuan jelas ada yaitu mendidik “jiwa” Paula sehingga menjadi bait Tuhan. Ruang lingkup pendidikannya terdiri dari tiga bagian pokok yaitu, penggunaan bahasa, baik Yunani maupun Latin, kemudian pengetahuan dan pengalaman rohani dan sebagainya.
4.      Yohanes Chrysostomus(347-407)
            Pendidik gereja ini lahir pada tahun 347di kota Antiokhia, di kemudian hari digelari Chrysostomus, artinya “mulut kencana” dan “Maha Guru di Dunia”. Studi Chrysostomus dalam yak-yak Yunani dilanjutkan pada sekolah-sekolah khusus.Kemudian studi yak-yak klasik digantikan dengan filsafat dan Alkitab.Ia ditahbiskan dan mulai panggilannya sebagai pendeta pada tahun 386. Buah-buah pikiran yang Chrysostomus tentang pendidikan kaum muda dituangkan dalam karya tulis yang berjudul Jalan yang layak bagi para orangtua untuk mendidik Anaknya.
5.      Augustinus (354-430)
            Aurelius Augustinus seorang teolog yang dihormati baik oleh Gereja Katolik Roma maupun Protestan, lahir di Afrika Utara. Augustinus adalah tokoh raksasa pertama adalah sejarah gereja yang diubah secara mendalam oleh surat Roma itu. Pemikiran Augustinus tentang Pendidikan berakar dalam refleksinya sebagai seorang Kristen atas pendidikan yang ia alami dulu, bidang filsafat, khususnya Plato dan misteri anugerah Allah yang dinyatakan melalui Alkitab dan Yesus Kristus. Dalam diri pribadi Augustinus telah dipersatukan jabatan pengelola gerejawi, teolog dan pendidik.Ia bukan seorang pengkhotbah saja, ia bukan seorang pengelola atau pendidik, tetapi ia terlibat dalam pelayanan mengajar yaitu pelayanan membuka rahasia Keajaan Sorga yang hendaknya menolong para warga gereja mewujudkan Iman Krsiten dalam kehidupan mereka.
   E.     Tiga Wadah Pedagogis yang Pokok
1.      Jemaat sebagai Persekutuan yang Beribadah
            Sebagian gaya hidup bersama selaku persekutuan yang beribadah adalah yang diambil dari pengalaman dirumah ibadah (sinagoge) untuk Yahudi dan dari sejumlah upacara rahasia yang dilakukan oleh agama misteri Yunani. Bagi orang-orang Yunani, kebaktian berkaitan dengan pelbagai rahasia dari agama “misteri” mereka, umpamanya Mitraisme yang disebut diatas.Jadi, kebaktian hanya terbuka bagi suatu kelompok tertutup saja yaitu yang sudah diperkenalkan pada isinya dan yang kemudian harus tetap merahasiakannya. Ketika jemaat Kristen dibentuk kedua tradisi tersebut diolah menjadi sesuatu yang baru,yaitu liturgi gerejawi. Dari warisan liturgi Yahudi itu persekutuan Kristen menerima kebiasaan memuji Tuhan melalui doa yang diucapkan dam mazmur-mazmur yang dinyanyikan bersama disamping keperluan agar jemaat dididik oleh Firman yang dibaca, yaitu Kitab Suci dengan penjelasannya.
2.      Wadah Katekumenat
            Katekumenat itu merupakan jawaban Gereja Purba untuk menaggulangi masalah banyaknya orang dewasa yang ingin mengabdikan diri kepada Kristus. Katekumenat itu belum ada pada zaman Gereja Perjanjian Baru, namun landasannya sudah nampak dalam bentuk minat yang dinyatakan si calon, pengajaran yang diberikan kesaksiannya sehubungan dengan mutu kehidupannya yang baru dan kapan saatnya ia boleh dibaptis. Pembaptisan itu sendiri dilaksanakan dalam bentuk mencelupkan calon itu tiga kali kedalam air.
3.      Wadah Sekolah Katekisasi
            Dalam kalangan Kristen Indonesia modern, nama sekolah ini condong menimbulkan kesan yang salah, yang seakan-akan ia sama dengan kelas katekisasi yang lazim terdapat dalam jemaat-jemaat Protestan untuk mempersiapkan calon angota resmu persekutuan Kristiani. Sekolah Katekisasi sebagaimana hidupnya dalam Gereja Purba lain sekali maksudnya, sebenarnyasekolah itu merupakan perguruan Kristen yang pertama. Sekolah Katekisasi ini sudah kita temui dalam pembicaraan tentang pendidik-pendidik besar, khususnya Clementus, Origenes dan Augustinus.Mutu Pendidikan yang diterima diperguruan kristiani itu dibuktikan oleh nama-nama tamatannya yang telah memberikan sumbangan yang kaya raya kepada gereja, misalnya Clementus, Gregorius dari Nyssa.Semua mereka itu bergumul dengan isi kebudayaan Yunani-Romawi dan sumber pokok iman Kristen dangan akibat bahwa pikiran mereka ditantang dan dikembangkan.



Komentar